Erupsi Gunung Sinabung

2013-11-15 15:06:15
Erupsi Gunung Sinabung

Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), kembali erupsi. Letusan kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya. 

Letusan itu mencapai 7.000 meter dari sebelumnya hanya sekitar 4.000 meter. Jumlah pengungsi pun semakin bertambah banyak, menjadi 5.535 jiwa.

"Intensitas Gunung Sinabung masih tinggi dan frekwensi gempa vulkanik masih meningkat. Status gunung masih Siaga (level III)," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, melalui siaran persnya, Kamis (14/11).

Dia mengatakan, masyarakat yang mengungsi itu ditampung di 11 titik. 

Lokasi pengungsian itu terdapat di Masjid Agung Kabanjahe (453 jiwa) dari Desa Gurukinayan, Berastepu, Paroki Gereja Katolik (578 jiwa) dari Desa Gurukinayan, Berastepu, Sigarang-garang, Gereja Batak Kristen Protestan (GBKP) Kota Kabanjahe (1.200 jiwa ) dari Desa Sibintun, Berastepu.
  
GBKP Simpang Enam Kabanjahe (379 jiwa) dari Ds Gurukinayan, Serbaguna/KNPI Kabanjahe (400 jiwa) dari Desa Bekerah, Simacem, Berastepu, Klasis GBKP Kabanjahe (270 jiwa) dari Desa Sibintun, Berastepu, Sigarang-garang dan Losd Peskan Tigandreket (940 jiwa) dari Desa Mardinding.

Selain itu, terdapat pengungsi di 
GBKP Payung (303 jiwa) dari Desa Sukameriah. Masjid Payung (110 jiwa) dari Desa Sukameriah, Losd Desa Naman (481 jiwa) dari Desa Bekereah dan Simacem, dan Zentrum GBKP Kabanjahe (421 jiwa) dari Desa Gurukinayan. 

Sutopo kembali mengimbau masyarakat untuk menjauhi zona berbahaya Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), yang sudah berulangkali erupsi dengan mengeluarkan abu vulkanik tersebut.

"Kita berharap supaya masyarakat mengikuti imbauan, sehingga bila terjadi erupsi lagi tidak sampai jatuh korban. Gunung Sinabung masih tetap terpantau beraktivitas," sebutnya. Getaran itu terasa berulangkali sampai pos pengamatan yang berjarak sekitar 8,5 kilometer (Km). 
  
Letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), memukul industri pertanian. Produksi tanaman holtikultura milik petani di sana drastis menurun. Tidak sedikit lahan pertanian yang mengalami kerusakan.

"Bila ditaksir total seluruh kerugian dari masyarakat petani di sini diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah," ujar seorang petani di Naman Teran, Tanah Karo, Makmur Sanjaya Sembiring (40).

Sembiring mengatakan, lahan pertanian milik masyarakat yang banyak mengalami kerusakan itu antara lain, selada, cabai, peleng, tomat, kol bunga, brokoli dan kentang. Kerusakan juga terdapat pada kebun jeruk, terong belanda dan lainnya.
 
"Luas lahan pertanian yang mengalami kerusakan tersebut diperkirakan mencapai puluhan ribu hektar. Mayoritas penduduk di daerah ini berprofesi sebagai petani. Saat ini, masyarakat sudah terpuruk akibat letusan gunung merapi tersebut," katanya.

Menurutnya, kerusakan lahan pertanian itu akibat abu vulkanik letusan Gunung Sinabung yang menyelimuti lahan pertanian masyarakat. Abu vulkanik itu merusak tanaman holtikultura petani. Bahkan, tidak sedikit petani di sana yang gagal panen.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian di Kabupaten Tanah Karo, jumlah kerusakan lahan pertanian milik petani di sana diperkirakan mencapai 25.739 hektar. Lahan pertanian itu belum bisa dimanfaatkan karena aktivitas Gunung Sinabung semakin meningkat.

Menurut Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Gundaling, Jaya Sembiring, total kerugian petani cabai diperkirakan mencapai Rp 21 miliar, tomat Rp 18 miliar, kubis Rp 21,8 miliar. Kerugian ini belum termasuk tanaman lain.
 
Jaya menghitung, sayuran jenis kentang yang biasanya menghasilkan produksi hingga 30 ton per hektare, dengan adanya erupsi gunung ini, produksi mengalami  penurunan sampai 50%. Produksi cabai pun turun drastis mencapai 30 persen.

Begitu juga dengan tanaman tomat,  harganya anjlok mencapai Rp1.500/kilogram di pasaran. Produksi toman ini juga turun 50 persen. Lebih memiris lagi, tomat yang dipanen tidak bertahan lama bila dipanen setelah terkena erupsi gunung.

"Kondisi masyarakat petani di sini sangat memprihatinkan. Selain terpaksa mengungsi, lahan pertanian pun tidak bisa dimanfaatkan. Padahal, mereka mengembangkan usaha pertanian dengan meminjam dana dari bank," jelasnya.

Menurutnya, pemerintah harus memberikan perhatian khusus buat membantu masyarakat petani. Soalnya, Tanah Karo selain dikenal sebagai daerah industri pariwasa namun juga terkenal dengan memiliki tanaman holtikultura. [155]

*www.suarapembaruan.com 15 Nov 2013